Rasanya selalu menyepi dan menepi sendiri. Beban terasa semakin menumpuk di pundak untuk dipikul oleh diri sendiri. Rasanya jalan untuk bercerita tidak layak untuk ku tumpahkan lagi kepada orang lain. Apa yang ku tumpahkan rasanya hanya menjadi tambahan beban bagi orang yang mendengarkannya. Terkadang, ketika ingin menghiraukan itu aku sadar bahwasanya diri ini terlalu lemah untuk menampung semua yang dirasa itu. Takut, sedih, bingung, kesepian, kosong, hampa....
Raga yang berdiri disini selalu
berupaya untuk menambah rasa kuatnya agar mampu menopang semua rasa yang selalu
hilir mudik berganti. Setiap malam angin selalu berusaha untuk menggoyahkan,
selalu berupaya mengusik apa yang sedang dikuatkan. Jujur, tidak kuat. Angin
terlalu kuat untuk meruntuhkan kuatnya raga yang sedang diusahakan untuk tetap
kuat. Kesepian yang hadir semakin membuat diri ini berteman dengan angin malam
dan berdendang bersama dengan tangisan tanpa alasan. Apakah itu tangisan karena
haru kesepian?
Semua orang selalu berkata dan
menggaungkan kata ‘semangat’. Kata hilang semangat rasanya, tanpa ada rasa yang
berarti dibandingkan hanyalah sebagai pemercik untuk menyalakan api yang
dinyalakan di luar angin malam. Terasa sulit sekali. Semua yang orang katakan
padaku, aku tau. Aku tau masalahnya, aku tau apa yang mesti dilakukan. Namun
mengapa begitu sulit untuk mengembalikan ini kembali kepada keadaan semula.
Berharap ada yang mengerti,
nyatanya kembali lagi lagi dan lagi hanya raga sendiri yang tahu. Aku benci
selalu merasakan haru sedih ketidakjelasan yang seharusnya bisa dituntaskan.
Namun, aku selalul terusik dengan semua beban rasa yang dirasakan sendiri.
Berat, sesak di dada. Tenang yang tak kunjung datang tolong lelah menantikan
itu. Dialog yang terus berputar berbicara kepada diri sendiri untuk
diselesaikan.
Kamu bisa
Kamu tidak apa apa
Kamu akan baik baik saja
Kamu hanya sedih sebentar
Gelap malam semakin membuat ketidakpastian itu menjadi bentuk gumpalan takut yang semakin membesar. Mata tidak bisa terpejam, inginnya menangis, melebur bersama gumpalan rasa takut yang dirasa karena rasanya seperti dipeluk oleh tangisan. Mencemaskan hal yang belum terjadi, mengapa pikiran itu datang? Merasa bahwa semua orang akan meninggalkan aku sendirian disini, mengapa pikiran itu datang? What about me? Sendirian lagi?
Semua orang pasti tidak akan memerdulikan dirimu, buat apa? Tolong jaga dirimu sendiri. Pikiran jahat yang nyatanya memang benar. Aku kesepian dan aku ketakutan. Manusia tidak akan pernah sadar apa yang ia miliki sebelum ia merasa kehilangan. Bodohnya tidak menyadari banyak orang disekitar yang siap sedia menyiapkan ruang dengar dan hatinya, tapi entah terlalu baik pada orang lain atau terlalu jahat kepada diri sendiri bahwa tidak ingin membuat pikiran orang lain semakin terasa berat.
Terimakasih teruntuk semua raga
yang selalu hadir di setiap diri ini ingin menepi sesaaat. Terimakasih sudah
menyiapkan ruang dengan dan hatinya untuk aku beristirahat sejenak walaupun
raga kalian jauh. Terimakasih masih menerima kehadiran yang mungkin hanya
membuang-buang waktumu untuk mendengarkan dan ikut menepi sebentar menyatu
dengan apa yang aku rasa.
Terimakasih, kalian special. Aku sayang kalian. Semoga Tuhan selalu memberkahi hidup kalian.
-bogor, 21:37

Komentar
Posting Komentar