kontribusi/kon·tri·bu·si/ n 1 uang iuran (kepada perkumpulan dan sebagainya); 2 sumbangan.
Ber-kontribusi berarti memberikan sumbangan. Sumbangan
pikiran, tenaga, waktu, dsb. Setuju banget sama definisi ini karena realitanya
memang seperti itu. Tahun 2019 ini banyak banget hal yang ingin gua bagi
setelah terakhir post blog ini awal tahun 2019.
Pertama, kalau tidak salah awal bulan Maret atau
April dibuka Open Recruitment Panitia MPKMB IPB 56. Ini adalah bagian dari
checklist dari mimpi-mimpi saat penugasan MPKMB IPB 55 tahun lalu. Dengan itu
akhirnya gua daftar ditengah hectic nya UTS semester 2 saat itu. Acara MPKMB
IPB 56 adalah acara pertama yang gua ikut serta setelah 1 semester terlewati di
PPKU selain gua mengikuti organisasi Gugus Disiplin Asrama.
Alasannya adalah ingin berkotribusi untuk
menyukseskan acara terbesar se-IPB raya yaitu MPKMB IPB 56. Disini lah komitmen
akan diuji. Jadwal liburan semester 2 habis full terpakai dengan jadwal
kegiatan MPKMB mulai dari gath, lalu radiv, lalu rakor, lalu buat juklak dan
juknis, lalu buat jargon, lalu buat video dsb. Tiada hari tanpa ke kampus dan
tiada hari tanpa pulang lewat jam 6 sore. Hal ini meyenangkan, bertemu orang
banyak, berkenalan dengan orang baru, bekerja tim, so awesome!
Setelah hari H selesai selama 5 hari, setelah itu
gua sakit. Yup, kaki bengkak dan bengkak nya tidak mereda hingga
berminggu-minggu. Setelah MPKMB usai, ada 2 amanah lagi yang sudah menanti,
yaitu PSN 2019 dan PORSTAT 2019. Disela penyembuhan kaki bengkak ini, banyak
struggle yang gua rasa terutama apa yang disampaikan orangtua. Larangan untuk
berhenti dari apa yang gua jalankan karena dampak sakit ini. Gua skip dulu cerita
sakit ini. Gua struggle gimana caranya
memberikan alasan yang bisa dimengerti oleh orangtua gua bahwa apa yang gua
jalankan ini bukan sesuatu yang tidak baik. Bodohnya gua, gua tidak ingat bahwa
angkatan gua yang akan menjadi tim inti PORSTAT dan semuanya harus ikut serta
kontribusi. Kalau aja gua ingat, gua ga akan ikut seleksi panitia PSN 2019.
Mungkin gak semua orang memiliki pemikiran yang
sama seperti yang gua pikirin. Rasanya menyenangkan menerima tantangan dalam
suatu kepanitian. Terkadang lelah nya pun bisa terasa nikmat. Ini alasan gua
memutuskan untuk daftar panitia The 14th Statistika Ria, selain alasan itu juga
karena The 15th Statistika Ria 2020 nanti adalah angkatan gua yang akan
menajadi panitia intinya. Banyak pro-kontra dalam hati gua sebenernya. Berarti
banyak banget dong ya gua harus menyumbangkan waktu yang gua punya? Yup waktu
24 jam dalam sehari. Beberapa kali bentrok rapat PSN dengan PORSTAT, atau habis
itu lanjut rapat Statistika Ria. Ini hal yang positif, tapi dampak negatif nya
adalah waktu untuk belajar gua akan berkurang diluar jam kuliah. Yup, kalau
pulang malam pasti lelah dan langsung tidur. Padahal belajar itu tugas utama.
Ini jadi tantangan besar, dimana gua selalu berusaha untuk mencoba tetap
setimbang dalam acara diluar kuliah dan kuliah.
Untuk kasus gua sebagai anak sulung yang akan
menjadi sosok yang akan dilihat oleh adiknya, gua menjadi sebuah harapan. Anak
perempuan yang selalu ada dirumah, gapernah sesibuk ini saat SMP dan SMA, kini
menjadi sering berada diluar rumah walau itu dikampus. Hari sabtu dan minggu
nya terpakai oleh kegiatan yang biasanya diisi family-time. Akhirnya gua sering
diberi nasehat untuk menyudahi ini sama orangtua. Yup, mereka khawatir ini akan
berdampak pada kesehatan gua dan hal lainnya. Sampai dititik puncak saat
bengkak terparah sampai ke tangan dan sakit nya masyaAllah luar biasa. Mungkin
ini realisasi dari apa yang gua pikirin di hati dan kepala.
‘apa yang harusnya gua lakuin?’
‘emang ini salah ya?’
dsb.
Dari hal ini gua belajar untuk berkomunikasi
dengan baik, belajar menyampaikan pesan dengan baik kepada orangtua. Bahwa apa
yang gua jalankan adalah hal yang menyenangkan buat diri gua. Mungkin emang
sifat dari diri gua yang senang banget mengatur sebuah kegiatan, bertemu banyak
orang, bertukar pikiran, mendapat value baru. Belajar untuk lebih mendengarkan
terlebih dahulu, dibanding ingin didengarkan. Pelan-pelan, biarkan satu-satu
berbicara. Mungkin ada perspektif yang sebelumnya tidak terlihat oleh kita. Hikmah
dari kasus ini, gua jadi jauh lebih terbuka untuk menceritakan hal apapun sama
orangtua karena gua hanya ingin mengikis rasa khawatir yang terlalu besar dan
memberi keyakinan bahwa gua bisa menjalankan ini.
Berkontribusi
dalam hal apapun itu penuh risiko nya tersendiri. Gua merasa, gua udah sedikit
keluar dari zona nyaman nya gua. Dulu takut banget pengen nyoba hal baru.
Terlalu tidak ingin menerima risiko dan ingin nya selalu berada dalam keadaan
yang ‘baik-baik saja’. Softs skil dari management waktu sangat ditantang
sekali. Semoga menjalankan hal-hal baru itu dapat mengikis rasa mager dan juga
malas. Meningkatkan rasa tanggung jawab. Walau ada risiko yang harus diterima,
coba kita perbesar lingkup positif nya. Tapi tetap pada prinsip ‘jangan terlalu
memaksakan hal’. Mari belajar mengenal jauh diri sendiri dari setiap perjalan
ini.
Jangan takut mencoba. Jangan takut jatuh. Jangan
takut dengan apa yang oranglain pandang tentang diri kita. Tapi cobalah
memantaskan diri untuk berusaha menjadi baik dan terbaik. Semoga!
Komentar
Posting Komentar